Menembus Batas Jalanan Lewat Lensa Kebaikan
Kumpulan dokumentasi, liputan visual, dan karya fotografi murni santri binaan Tasawuf Underground. Setiap bingkai memotret perjalanan hijrah, ketulusan persaudaraan, dan harapan baru.
Suara dari Sudut yang Terlupakan: Potret Keresahan Kolektif Komunitas Punk dan Jalanan Santri Tasawuf Underground
Foto-foto yang diabadikan oleh para santri Tasawuf Underground bukan sekadar karya seni dokumenter, melainkan sebuah bentuk perlawanan visual (visual counter-narrative) terhadap realitas jalanan yang keras dan terabaikan Keresahan kolektif mereka merefleksikan potret kota yang tidak ramah bagi keselamatan jiwa dan masa depan kelompok marginal. Melalui lensa kamera, para santri seperti Bang Ade, Bang Pongky, Bang Alvin, dan Bang Jawir menyuarakan kecemasan mendalam atas buruknya tata kelola infrastruktur publik. Mereka menyoroti bahaya kabel-kabel listrik terkelupas yang menjuntai rendah di dekat area pasar, lubang-lubang besar di trotoar yang mengancam keselamatan pejalan kaki tunanetra, hingga kemacetan lalu lintas parah yang diwarnai perkelahian fisik akibat banyaknya pengendara egois yang nekat melawan arus. Mereka gelisah karena di tengah ancaman kecelakaan yang terjadi setiap hari, aparat berwenang seolah absen dari tanggung jawabnya, membiarkan pos-pos polisi kosong tak terpakai. Lebih jauh lagi, keresahan mereka menyentuh aspek stigma sosial dan diskriminasi birokrasi. Mereka merasa sakit hati ketika kontribusi sosial nyata mereka seperti menjaga keamanan lalu lintas secara sukarela, mengurai kemacetan, dan menolong kaum disabilitas menyeberang jalan selalu luput dari pandangan masyarakat umum. Di mata publik dan algoritma digital, mereka kerap disederhanakan hanya sebagai sampah masyarakat atau target operasi penertiban Satpol PP yang dikejar-kejar, ditangkap, lalu dilepaskan kembali ke jalanan tanpa pernah diberikan pembinaan masa depan yang tulus. Melalui rekaman cerita dan visual ini, para santri menuntut pengakuan atas kemanusiaan mereka: bahwa di balik tato dan pakaian lusuh mereka, ada kepedulian yang tulus, tanggung jawab sebagai kepala keluarga, dan hak hidup sebagai warga negara yang setara
Keadilan Ekologis dan Martabat Kemanusiaan di Ruang Publik: Lensa Kritik Sosial Bang Kojan
Bagi Bang Kojan, kamera adalah alat untuk menyuarakan ketimpangan sosial dan ekologis yang luput dari perhatian pemerintah. Ia gelisah karena ruang kota sering kali dirancang tanpa memikirkan kelestarian alam dan keselamatan warganya yang paling rentan. Lewat karya-karyanya, ia menuntut perubahan nyata: perbaikan infrastruktur publik, penegakan ketertiban jalanan yang humanis, serta pengakuan atas ruang hidup dan martabat ekonomi bagi komunitas jalanan.
Ironi Kesejahteraan: Gugatan Bang Iwan Cengek Atas Ketimpangan Industri dan Jalanan
Secara umum, keresahan Bang Iwan Cengek (Bang Cenge) berakar pada kesenjangan sosial-ekonomi yang tajam di Indonesia, sebuah paradoks di mana sebuah negara kaya yang dipenuhi dengan berbagai pabrik industri besar seperti pabrik tahu dan konveksi garment justru masih menyisakan banyak warganya yang terpaksa berjuang keras mengais sampah plastik dan kardus di jalanan demi bertahan hidup. Ia menggugat ketidakpedulian para penguasa dan pemerintah yang dinilai hanya mementingkan diri sendiri serta mendesak agar kebijakan negara ditekankan untuk "menengok ke belakang" guna memberikan jaring perlindungan nyata bagi hak hidup pekerja daur ulang informal yang rentan di jalanan
Lensa Keadilan Ekologis Bang Kiplay: Menguak Hubungan Sampah Parit hingga Muara Lautan
Bang Kiplay adalah peneliti pendamping (co-researcher) dari komunitas Tasawuf Underground yang memiliki kepekaan tajam terhadap keadilan ekologis dan isu kebersihan lingkungan hidup. Keresahan terbesarnya berakar pada kurangnya kesadaran masyarakat perkotaan dalam memperlakukan saluran pembuangan air (gorong-gorong) di sekitar tempat tinggal mereka.
Lensa Kemanusiaan Bang Oji: Melawan Stigma Melalui Potret Solidaritas dan Perjuangan Marginal
Bang Oji adalah peneliti pendamping dari komunitas Tasawuf Underground yang menggunakan kamera untuk mendekonstruksi sudut pandang sempit masyarakat terhadap kehidupan jalanan. Keresahan utamanya berakar pada invisibilitas kemanusiaan bagaimana dunia digital dan stereotip sosial sering kali menyederhanakan kehidupan anak punk atau masyarakat marginal hanya sebagai simbol kriminalitas atau kekumuhan.